Kamis, 07 September 2017

^Begong^; kok kejem ya... umat Hindu karo pemerintah Myanmar, umat Islam dek kono jumlah e titik tur egk berdaya tego members. Aku prihatin dadine

^Swiji^ : iyo gong.,, opo ukura seng garei pemerintah Myanmar mbantai Wong seng egk bersalah samanai mbane.? Opo mergo mereka ne kui umat Islam, tapu mosok men,, mendah lek umat Islam trus di bantai.? Opo hubungane..

^begong^ : yo onok ta ji... Emg kowe egk abdet informasi,, la dek kono enek bikhu seng bener" benci karo Wong Islam,. Bahkan menyebut umat Islam kuwi koyo ular berbisa, masio titik tapi beracun,, dadi kudu di basmi ji..

^swiji^; weleh".. Kok iso koyo nguki Pye yoo... Opo kleru mandang Islam. Marak no paling kok Islam seng terkenal dek donyo ki okeh" orang Islam seng keras.. Maksud e iki, koyo terorisme lan kerusuhan ki prayo seng tenar panggah dunia Islam. Mula bisa uga lek orang agama lain memandang Islam elek..

^paijo^; iki ngomong ne opo ta.. Ngalor ngidol ngetan ngulon egk genah.. Masalah rohinya ki yo okeh sebab e... Permasalahan Utama pada mereka juga bukan masalah mereka beragama Islam. Kalau masalahnya mereka beragama Islam, kenapa kok Islam di yaqon ibu Kota Myanmar egk di bantai pisan.. Permasalahan rohinya ini juga sudah lama meletus bahkan tahun 2005 ke atas itu sudah ada yang mengungsi.. Singkat cerita disana dulu pengin menjadikan rakhire sebagai daerah istimewa yang menjadikan hukum Islam sebagai pengendali peraturan disana, namun pemerintah myanmar menolak hal itu. La penolakan ini memicu amarah bagi masyarakat yang menginginkan daerah istimewa itu. Akhirnya mereka menamakan diri sebagai rohinya, dan pada akhir abad 20 mereka melakukan agresi terhadap pemerintah.. Namun itu sediki gong, ji... Lebih dalam lagi menyangkut dosa sejarah kolonial dan juga menyangkut kedua negara yaitu Bangladesh dan Myanmar. Tapi ku gung mengikuti pasti Pye kui kok sampai membangkitkan kedua negara dan sejarah kedua negara tersebut.. Tapi intine faktor pembantaian etnis rohinya dek Myanmar kui okeh penyebab e..

^begong^; hmmm la yo pantesan wae iki kok yoo rumit banget perkorone.. Ngunu lo ji.. Ojo langsung jastifikasi lek umat Hindu ki bajian tur bangsat lan pemerintah Myanmar kui membeci Islam.. Lawong permasalahan yoonokeh...

^swiji^; perasaan koe seng ngomong gong... Elah dalah tapi Jo,, la kui enek bikhu seng ngomong Islam bagai ular berbisa ki tenan po yo uduk..,

^paijo^; lek kui yo pancen enek, salah siji bikhu seng muni ngunu, mergo tenar re kui yoiku usume terorisme lan peperangan seng mengandung masyarakat Muslim dunia. Tapi bikhu seng ngucap ngunu kui, yoo okeh seng nyayangne soko masyarakat Myanmar bahkan sesama bikhu di sana..

^begong^; wooh wedus tenan bikhu seng ngomong ngunui... Marai nyawang Islam soko wonge uduk agamane...

^paijo^; mula ta geng lek dadi Islam ojo rumongso bener dewe.. Tur ojo rumongso wes cukup lek ngaji... Awak mu kui dadi Wong Islam kui juga mendapat amanah menjaga nama baik agamamu.. Baik dan buruk agama, jika dilihat dari samak e kan prayo seng didelok soko Wong-wong senganut... Uga kuwi wong agama liya nyawang Islam soko adewe kui seng beragama Islam.. Mergo kui ojo ita itu karepmu dewe..

Rohinya di warung kopi

Selasa, 25 April 2017

Serba-serbi kehidupan memicu terjadinya komunikasi, tukar pendapat, saling bersinggungan satu ke hal lainnya. Tumbuhan dan hewan mempunyai daya tarik warna-warni bagi kehidupan, tidak lain halnya manusia. Daya tarik itu, akan punah jika diantara satu dari pada lainnya memiliki hasrat memiliki dan mau menang sendiri. Celakanya hanya manusia yang bisa berpikir tentang konsep pengendalian atas makhluk hidup selain dirinya (tumbuhan dan hewan). Terlihat jelas dalam film Patrick Rouxel dengan judul Green, bagaimana ia menggambarkan antara manusia, tumbuhan dan hewan saling berinteraksi dan bergesekan dalam ruang dan waktu yang sama.
Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ushuludin Adab dan Dakwah (DEMA FUAD) IAIN Tulungagung menggelar diskusi dan bedah film dengan judul Green dari Patrick Rouxel di Aula Utama IAIN Tulungagung. Acara tersebut bertemakan “Melihat Ulang Problematika Lingkungan” yang di buka langsung oleh Imam Safi’i selaku ketua DEMA FUAD sekitar pukul 20.00 WIB.
Acara bedah film dan diskusi adalah salah satu rangkaian dari program kerja DEMA FUAD. Latar belakang menyajikan film dari Patrick Rouxel untuk menambah wawasan dalam melihat lingkungan. Selain itu, lingkungan harus dijaga dan dilestarikan oleh manusia begitu juga dengan hewan yang ada didalamnya.
Di awal-awal film Patrick Rouxel menyajikan tentang bagaimana keadaan Orang utan, yang sedang di bawa oleh sekelompok manusia. Ia korban dari eksploitasi Sumber Daya Alam. Film ini pada intinya adalah perjalanan emosional orang utan di akhir hayatnya.
Rumah Orang utan telah ditebangi, penebangan itu alih-alih untuk pembukaan lahan baru yaitu perkebunan kelapa sawit di Kalimantan. Bahan-bahannya telah di produksi sebagai alat peralatan rumah tangga seperti meja, kursi, pintu dan lain-lain. Selain itu kayu-kayu juga dijadikan produksi kertas-kertas yang kadang dianggap sepele oleh manusia. Seperti koran, sehabis dibaca tidak karuan ke mana. Yang jelas tempat terakhirnya koran ada ditempat pembuangan.
Selain ditebangi, hutan-hutan juga dibakar dan menimbulkan asap sehingga terdesak pada penciuman hewan di hutan itu. Berakhirlah keaneragaman hayati yang semula hidup dengan harmonis. Eksploitasi tetap menjadi acuan utama untuk menjadikan objek seperti orang utan tersiksa dan merana. Kejadian ini tak jauh dari perbuatan manusia.
Refleksi
Semangat orde baru (orba) masih mengakar kuat sampai sekarang. Sedangkan semangat itu bersenyawa dengan kapitalisme. Kita melihat kayu-kayu itu ditebangi untuk diekspor ke luar negeri dan dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat lain. Begitu juga hasil dari kelapa sawit seperti minyak dan kosmetik.
Paham kapitalis begitu kuat diperlihatkan di film ini, para kapitalis diwakili oleh perusahaan, penguasa, ilmuan dan koperasi. Mereka memandang alam dan hewan berada di bawah mereka dan sebagai objek yang perlu dimanfaatkan dalam bentuk eksploitasi atau menguasainya.
Sudut pandang film ini diambil dari hewan. Kodrat hewan tidak mempunyai akal seperti manusia, sehingga mereka akan tunduk pada manusia yang memiliki daya rasional untuk menguasainya. Rasionalitas begitu menegasikan keadaan yang tidak pernah berpikir. Penegasian ini membuat para ekploiatasi tidak pernah menimbang ulang dampaknya. Logika ini persis yang di sampaikan Louis Althusser, di mana rasionalitas adalah alat untuk menyebarkan ideologi. pada konteks film ini, rasionalitas yang dimaksud yaitu dari ranah pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Ilmu Pengetahuan Alam seharusnya menjaga alam,  tetapi tampaknya tragis menggunakan keilmuan hanya untuk menguasai lainnya seperti mengekploitasinya. Jadi, hewan tidak bisa berpikir jernih sehingga rumahnya dapat dikuasai begitu saja dengan mengeksploitasinya.
Film dari Patrick Rouxel berjudul Green ini begitu jelas menampakan kejahatan kapitalis yang diolah dari berbagai cara. Untuk itu setelah adanya bedah film sekaligus diskusi, diharapkan mahasiswa FUAD dapat menindaklanjuti dalam bentuk yang real, aksi-aksi kecil. Agar tidak menghilang begitu saja. Aksi-aksi kecil ini dapat berupa memahami alam dan hewan. Selain itu dapat terjun langsung untuk melakukan penghijauan, gerakan-gerakan nyata kepada alam dan hewan. Hewan dan alam harus dipahami sebagai sesuatu yang sama dengan manusia. Dalam artian intersubjektif bukan objek lagi.
Film ini juga menyadarkan kita akan pentingnya alam dan hewan. Interaksi manusia kepadanya dan memperlakukan keduanya seperti halnya manusia yang hidup membutuhkan makan, minum dan rumah. Sebagai sistem rantai kehidupan di dunia.
Acara bedah film dan diskusi selesai pukul 23:00, dengan akhir menyanyikan lagu darah juang bersama-sama oleh mahsiswa FUAD yang hadir pada malam itu. Selain hal tersebut, seperti biasanya mahasiswa FUAD menderukan jargon sebagai lambang semangat dan bukti kekompakan bersama. Yaitu salam jaringan mahasiswa FUAD… JANGFUD!!! [M. Salis Arisna M., Mahasiswa Tasawuf dan Psikoterapi]
 



Bedah Film Green, Ekspresi Haus Keilmuan dalam Melihat Lingkungan



Hujan membasahi daerah Kauman, Tulungagung, tepat di mana pertandingan futsal diselenggarakan pada tanggal 24 Maret 2017. Jantung terasa berdebar menunggu  dimulainya laga perdana JAMFUD FC dalam kompetisi DEKAN FEBI CUP di lapangan Sumeleh Futsal Center. Team JAMFUD FC merupakan gabungan dari Mahasiswa FUAD yang diasuh langsung oleh divisi Bakat Minat DEMA FUAD IAIN Tulungagung. Nama ini mengacu pada semboyan yang kerap dipakai dan terdengar di lingkungan Mahasiswa FUAD. Satu persatu teman-teman datang dan antrian kendaraan yang panjang menyambut hangat kedatangan teman-teman.
Dengan pakaian basah kuyub, Manager JAMFUD FC bergegas mengurusi administrasi kelengkapan tim. Administrasi terselesaikan, Sofia sang Manager bersama Ilham sang Kapten mengabsen satu persatu anggota dan menentukan siapa saja yang akan bermain pada laga pertama. Pemain pertama yang sudah tersusun antaranya Joko sebagai kipper, Yayuk, Zaris, Hasan serta Ryan dan Yaqin, Sholeh, Ahan, Tajudin, Aziz serta sang Kapten menjadi pemain pengganti.
Sesuai dengan hasil undian Technical Meeting, JAMFUD FC memperoleh jadwal pertandingan ketiga melawan Nusantara FC pada pukul 14.30 WIB di lapangan 1 Sumeleh Futsal Center. Perjuangan teman-teman menerjang hujan memberikan waktu lumayan panjang untuk mempersiapkan diri. Kebetulan, kedatangan kami disaat pertandingan pertama baru dimulai. Namun alih-alih waktu luang dapat dimaksimalkan untuk persiapan, waktu malah terbuang sia-sia, Teman-teman asyik menonton pertandingan pertama dan kedua, sehingga agaknya terburu-buru dalam mempersiapakan diri.
Panggilan panitia untuk memasuki pintu lapangan membuat segenap tim bergegas memasuki area permainan. Wasit meniup peluit, menandakan permainan dimulai. Nusantara dengan cepat menguasai bola, gol pertama pun tercipta.
Ketegangan terjadi karena kesiapan diri masing-masing anggota belum sepenuhnya terbentuk memicu kekacauan permainan. Pemain cadangan sudah tidak tahan dengan permainan yang berlangsung dan meminta pergantian pemain. Terlihat para pemain JAMFUD sedikit kebingungan untuk mengatur posisi, membuat permainan para pemain tak beraturan sesuai rencana. Dengan tegas dan gesit tim Nusantara mampu membuat gol kedua dan dilanjutkan gol ketiga.
Terjadinya pergantian tim dari kubu JAMFUD, Sholeh digantikan oleh Zaris sesaat setelah gol ketiga. Masuknya Zaris membuat ritme semakin tertata dan langsung mencetak gol melalui open play. JAMFUD Fc mempersempit ketertinggalan angka 1-3. Sampai berakhirnya babak pertama pertandingan, kedudukan tak berubah.
Peluit babak kedua berbunyi, ada beberapa pergantian di kubu JAMFUD yaitu Zakka digantikan oleh Ahan, Zaris yang baru masuk digantikan Tajuddin dan Yaqin menggantikan Ryan. Pergantian Pemain membuat tim JAMFUD menemukan permainannya. Persaingan yang ketat keduanya terjadi disepanjang babak kedua.
Serangan demi serangan terus di lancarkan. Entah mungkin karena Nusantara FC kelelahan atau JAMFUD FC memiliki penggedor baru. Penguasaan bola dikuasai oleh tim JAMFUD Fc, sehingga Yakin memperkecil ketinggalan menjadi 2-3.
 Permainan JAMFUD fc sedang asik-asiknya, tiba-tiba sang Kapten jatuh dan cidera, mau tidak mau sang kapten digantikan oleh Ryan. Namun tidak menyurutkan semangat dari para pemain JAMFUD Fc. Tim ini terus melakukan serangan dan sempat mengurung pemain lawan, namun pertahanan Nusantara Fc tidak bisa dipandang sebelah mata sehingga tidak memaksa serangan JAMFUD Fc.
Terlihat Nusantara FC melakukan beberapa pergantian, sementara JAMFUD FC terlihat kelelahan. Permainan berbalik dikuasai oleh Nusantara FC. Sedikit demi sedikit teman-teman kehilangan bola dan membuat Nusantara FC menambahkan pundi golnya, 2 gol dengan waktu yang singkat merobek gawang yang dijaga Ahan, memaksa pertandingan menjadi 5-2.
JAMFUD FC berusaha menututi ketertinggalannya. Namun sampai peluit berakhirnya pertandingan kedudukan tidak berubah. JAMFUD dipaksa untuk menyerah 2-5 dengan Nusantara FC dipertandingan pertamanya. [Muhammad Saiful, Divisi Bakat Minat DEMA FUAD]

JAMFUD FC Mengikuti Kompetisi Futsal